Saat Ibu-ibu Ojek Tangani Gizi Buruk - BeritaSatu

Bandung - Berbekal sepuluh resep makanan sehat, ibu-ibu rumah tangga di sekitar Puskesmas Riung Bandung, berhasil menangani gizi buruk di lingkungannya. Bergabung dalam komunitas Omaba (Ojek Makanan Bayi), para ibu itu berkeliling ke posyandu-posyandu untuk menyosialisasikan pola asupan gizi serta makanan sehat ke ibu-ibu yang lain.

Astuti (60) yang tergabung dalam komunitas itu memaparkan, mereka bergabung karena prihain dengan gizi buruk pada balita (bayi di bawah usia lima tahun) di sekitar Riung Bandung, Kecamatan Gedebage, Bandung. Tahun 2012, kader PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dan petugas Puskesmas Riung Bandung menemukan 23 balita dengan gizi buruk di kecamatan tersebut.

"Kami berkumpul dan masak bersama. Membuat makanan sehat buat mereka," kata perempuan dengan enam cucu ini.

Inisiatif membuat makanan sehat ini bermula dari intervensi pemberian susu formula yang tidak efektif. Ibu dari balita dengan gizi buruk malah menjual susunya ke warung.

"Kalau susu formula dijual bisa makan bersama-sama (satu keluarga), karena memang tidak ada uang. Saya juga akan begitu. Dari situ, bersama ibu kepala puskesmas, mau tidak mau kita harus memasak," kata Ketua Komite Kesehatan Cisaranten Kidul, Vita Fhinera Wijaya, yang tempat tinggalnya tidak jauh dari puskesmas.

Untuk bisa membuat makanan sehat, komunitas Omaba mendapatkan pelatihan dari Politeknik Kesehatan Bandung Jurusan Gizi. "Kami dapat penjelasan soal gizi dan menu makanan sesuai kalorinya. Cuma dapat sepuluh resep," kata Marliyani (51), anggota komunitas lainnya.

Sekarang, mereka sudah memproduksi nugget ayam jamur, nugget tempe, mi sehat, bakso singkong, nasi sayur, hingga kani rol berisi ayam, udang, dan sayuran. "Masaknya di rumah ibu Vita. Kalau sekarang di dapur Omaba," ujar Astuti.

Omaba yang menjadi identitas komunitas itu berasal dari tugas mengantarkan makanan oleh dua anggota komunitas. Proses ini mirip dengan layanan mengantar makanan dengan layanan Gojek. "Selain mengantar, ibu Nok dan Nining juga kadang menyuapi balita yang dikunjungi," ujar Astuti lagi.

Makanan dikirimkan sekali dalam sehari. "Bisa untuk dua kali makan. Diantar setiap jam delapan pagi. Kalau sudah terpenuhi makanan pokoknya, kami tingkatkan dengan makanan tambahan seperti puding," ujar Vita lagi.

Untuk operasionalisasinya, komunitas Omaba ini mendapatkan bantuan dana dari Dinas Kesehatan Kota Bandung dan program corporate social responsibility Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak Bandung Group. "Dana dari pemerintah itu hanya untuk tiga bulan, tiga bulan berikutnya dapat tambahan dari Pertamina. Sama sepeda motor untuk mengantar makanan," terang Vita.

Selain itu, Omaba Cooking Center, yang dapurnya juga didanai oleh Pertamina, memasok produk makanannya ke gerai-gerai Bright Store yang ada di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik Pertamina. "Keuntungannya untuk subsidi silang dan juga lingkungan hidup di kawasan kami," papar Vita.

Lomba di AS
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengapresiasi inisiatif komunitas Omaba ini. Menurut dia, inisiatif dari masyarakat untuk menyelesaikan masalah masyarakat ini akan diusulkan untuk mewakili Kota Bandung dalam perlombaan inovasi pelayanan publik di Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Undangan itu datang dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara karena program Omaba masuk dalam 35 inovasi pelayanan publik nasional 2016 kategori kabupaten dan kota.

"Saya berharap dan berniat memperbesar skala layanan ini jadi merata di Kota Bandung. Sehingga success story menghilangkan balita dengan gizi buruk bisa merata," ujar Ridwan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Ahyani Raksanagara mengatakan, saat ini masih ada sekitar 700 anak dengan kondisi gizi buruk di Bandung. "Tidak bisa menjadi nol juga karena ada yang gizi buruk akibat penyakit lain atau cacat bawaan. Belum lagi kesalahan pola asuh. Jadi gizi buruk tidak melulu akibat asupan makanan," kata Ahyani.

Suara Pembaruan

Adi Marsiela/IDS

Suara Pembaruan



http://ift.tt/2cFQT71

Subscribe to receive free email updates: